Rabu, 27 April 2011

Kebiasaan Calon Manusia Sukses

Sabtu (7/10), Salman Consulting menyelenggarakan training gratis selama dua jam bersama Supardi Lee. Siapakah Supardi Lee? Beliau alumni Fakultas Teknologi Pertanian IPB, keturunan Cina-Sunda, mempunyai usaha Mie Tebet dan seabrek bisnis lain. Dilihat dari wajah dan performa tubuhnya, beliau masih muda, usainya berkisar 30-an tahun.

Jarang ada training gratis seperti ini, yang ada biasanya training dengan harga yang menguras dompet. Aku mendaftarkan diri sebagai peserta. Acara molor setengah jam dari jadwal yang ditentukan yakni pukul 13.00 WIB.

Supardi Lee membagi ilmu dan pengalamannya pada kami. Aku tertarik dengan tiga kebiasaan calon manusia sukses yang beliau sampaikan.

Menurut Supardi Lee, untuk menjadi manusia sukses orang bisa dilihat dari kebiasaan hidupnya. Kalau tiga kebiasaan ini melekat dalam diri orang itu maka dia sudah berinvestasi buat kesuksesan masa depannya. Kebiasaan itu antara lain :

  1. Pengetahuan yang Dilakukan
  2. Harga Sukses yang Dibayar
  3. Uang Anda Untuk Apa?

Supardi mengingatkan kami untuk tidak menulis dalam catatan kertas, beliau memberikan trik bagaimana semua yang ia ajarkan bisa dingat cepat yakni dengan metode NLP (Neuro Liguistic Program) atau program bahasa otak. Setiap kebiasaan diatas diikuti gerakan tubuh

. Saat mengucapkan ‘pengetahuan yang dilakukan’, kita diminta mengangkat kedua tangan lurus diatas kepala dan menepukkannya . “Harga sukses yang Dibayar”, kita diminta mengikuti tangan beliau yang seakan-akan mengambil uang dari saku di dada dan membayar sesuatu. “Uang Anda Untuk Apa”, saat mengucapkan itu, tubuh kita berputar-putar 360 derajat di tempat. Itu salah satu metode belajar NLP, dimana bukan hanya otak yang mengingat dan belajar, tapi juga seluruh tubuh ikut belajar. Walhasil, aku mudah bukan mengingatnya dan menuliskannya kemali.

Lalu apa maksud kebiasaan tiga tersebut?

  1. Pengetahuan yang Dilakukan

Maksudnya, ilmu apa pun yang kita peroleh dan pahami hendaknya diaplikasikan atau dilakukan. Tak masalah itu ilmu dari hasil kuliah, seminar, diskusi, training, obrolan, baca buku dan sebagainya. Aku teringat diriku sendiri, ilmu-ilmu pangan dan gizi sehat yang kuperoleh waktu kuliah jarang diaplikasikan. Aku tahu vitsin nggak bagus buat tubuh, yang kulakukan malah setiap masak, vitsin selalu kutambahkan. Kalau ada yang bilang vitsin nggak bagus, aku beralasan,” Tubuh kita memerlukan minimal 12 mg monosodium per hari.”

Atau juga tentang makanan-makanan lain. Yang terjadi kini aku menderita sakit tenggorokan yang tak jua pulih. Sedihnya kalau mau membaca Al Quran di Ramadhan, tidak bisa bertahan lama, suaraku akan hilang.

Tenggorokanku menjadi sensitive terhadap makanan berzat kimia sintetis, siklamat, sakarin, asasp rokok, pewarna makanan, air dingin, gorengan dan lain-lain. Sudah berulangkali aku memeriksakan ke dokter THT, paru-paru, umum dan pengobatan tradisional cina. Hasilnya nihil. So, mungkin inilah hasil pengetahuan yang tak dilakukanku selama ini. Tubuhku tak sukses.

  1. Harga yang Dibayarkan

Kesuksesan rata-rata sebanding dengan harga yang harus dibayar seseorang untuk meraih suatu goal. Kalau kita ingin mencapai sesuatu siap-siaplah berkorban. Supardi Lee menanyakan satu persatu peserta berapa target pendapatan uang per bulan yang ingin dan rasional bisa diperoleh peserta. Ada yang menyatakan lima ratus ribu, satu juta, lima puluh juta dan satu milyar.

Aku mengatakan 20 juta per bulan. Dan aku yakin itu rasional suatu saat bisa teraih. Bila aku ingin mendapatkan 20 juta per bulan, maka energi yang kukeluarkan juga harus minimal seharga 20 juta. Tentu saja tak cukup kerja keras saja, tapi juga ditambah kerja cerdas dan ikhlas. Kenapa parameternya pendapatan uang per bulan? Karena uang adalah goal yang mudah terukur.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mendefinisikan rinci apa itu sukses bagi kita. Mungkin bisa jadi jawabannya pengusaha sukses, tergantung sukses menurut kita. Bila ingin menjadi pengusaha sukses, pertanyaan tambahan adalah, pengusaha di bidang apa? Omset per bulan berapa? Kapan waktu terealisasikan? Apa pengetahuan yang dibutuhkan demi sukse tersebut? Dll. Sukses yang terdefinisi dan bertarget, sangat memungkinkan kita untuk bisa meraihnya.

  1. Uang Anda untuk Apa?

Kebiasaan penggunaan uang yang selama ini kita peroleh baik dari orangtua, suami atau gaji hasil keringat sendiri juga menentukan masa depan kita.

Dua pilihan terserah kita, dibelanjakan untuk keperluan leher kebawah atau leher keatas.

a. Leher ke bawah

Maksudnya, uang yang kita miliki dibelanjakan untuk meningkatkan penampilan fisik kita seperti baju, perhiasan, pulsa, makanan enak, sepatu, tas, kosmetik dll. Kalau ini yang kita sering lakukan, maka dijamin kesuksesan Anda sulit didapatkan. Kalau pun diperoleh, kesuksesan yang diperoleh bersifat semu. Sebab, kita boros, suka membelanjakan untuk barang konsumtif. Benda-benda tadi suatu saat rusak, sebuah investasi yang merugikan bukan?

b. Leher ke atas

Maksudnya, uang yang kita peroleh kita manfaatkan sebesarnya untuk meningkatkan skill, pengetahuan, dan ilmu. Misalnya, uang itu kita investasikan untuk kursus bahasa asing, kursus multimedia, ikut training, seminar, membeli buku yang bermanfaat, dan mempelajari keahlian baru.

Ini investasi menguntungkan, bagaimana pun ilmu itu tak pernah rusak, apalagi kalau kita sering mengaplikasikannya. Sebuah kepuasaan batin tak terhingga ilmu kita bermanfaat bagi orang lain dibandingkan kepuasaan kita membeli barang-barang mewah untuk mempermak fisik kita.

Aku sendiri terkejut dengan hal ini, selama ini uangku tak tahu kenapa cepat habis. Anggaran membeli buku masih jauh lebih kecil dibanding pulsa HP. Aku salah strategi dalam hidup. Mumpung ada kesempatan perbaiki kebiasaan buruk masa lalu kita. Go Go Go !

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar